Jumat, 21 April 2017

Kartini dan Wanita


Hai.. Selamat Hari Kartini yaa.. πŸ’“
hari ini ada upacara memperingati hari kartini di kantor
terus?
hehe.
ya gapapa cerita aja.. terus abis upacara tiba-tiba pengen googling tentang Kartini dan baru tau beliau meninggal di usia 25 tahun setelah melahirkan anak pertamanya..

Telat banget ya taunya?
ya maaf..
sungguh aku baru tau loh..


Aku baca beberapa website tentang biografi singkatnya Kartini,
hebat.
such a great woman
terus dapet broadcast juga tentang Kartini yang bikin aku pengen nulis tentang kartini dan wanita.
aku copy semua tulisan nya yaa.. ini gatau siapa yang awalnya menulis ini.. terimakasih anyway

πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•
JEJAK KEISLAMAN KARTINI
YANG BELUM BANYAK DIKETAHUI

Salin saji, sepenggal catatan menyongsong
Hari Kartini,

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

"Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?"

"Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca".

"Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya".

"Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?"

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya".

"Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya".

Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, menceritakan pertemuan RA. Kartini dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat dan menuliskan kisah tsb sbb:

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

"Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban".

"Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan".

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; "Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disun dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah SWT.

RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Al-Qur’an. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.

RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Qur'an diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini. Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.

Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur).

Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.

Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.

Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan Armijn Pane dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur’an. Kata “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“ dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (petunjuk, hidayah atau kebenaran)

πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


udah baca?
sebenernya aku pernah baca tulisan di atas beberapa tahun yang lalu, di perayaan hari kartini sebelum-sebelumnya.
tapi entah kenapa hari ini setelah googling biografi kartini dan baca tulisan tentang kartini di atas jadi pengen nulis sesuatu yang ada di otak.
so, here it goes..


Setelah baca biografi Kartini yang salah satunya dari sini, ada salah satu segmen yang menceritakan kisah Kartini yang batal sekolah ke Eropa, betapa teman-temannya kecewa setelah mendengar Kartini tidak jadi sekolah ke Eropa dikarenakan Raden Ajeng Kartini mau menikah. Kalo digabungin dengan cerita yang aku share di atas mungkin ada hubungannya. Kartini setelah menikah dan mempelajari arti Al-Quran menjadi seorang pribadi yang berbeda. Kalo di wikipedia menggunakan kalimat seperti ini:

"dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi"

transendensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah di luar segala kesanggupan manusia; luar biasa; utama
dan menurut ilmu filsafat dan psikologi transendensi hendak menjadikan nilai-nilai transendental (keimanan) sebagai bagian penting dari proses membangun peradaban. (sumber dari sini)
hal inilah yang membuat aku mikir


kok tiba-tiba gambar siput nyebrang ih?
kan Kartini juga gitu.. dia "menyebrang" dari pemikiran awal menuju pemikiran baru #eeeaaaa
aku jujur aja takut menerjemahkan arti perubahan sikap Kartini ke dalam tulisan di blog ini,
bukan kenapa-kenapa sih.. tapi ilmu aku masih cetek banget tentang sejarah nih.. takut salah.. hehehe.


but i did realize that she changed her mind
sayang sih Kartini meninggal di usia yang masih relatif muda.. jadi kita gabisa "melihat" lebih jauh realisasi tindakan dan pemikiran-pemikiran Kartini setelah beliau "berubah haluan"
duh pada ngerti maksud aku ga nih?
hehe.


Aku mau cerita ini bergeser ke "kartini" lain deh..
beberapa orang wanita lainnya.
Pernah kenal sesosok wanita hebat yang luar biasa vokal dalam beberapa hal ketika dia masih single?
aku kenal.
Lalu apa yang terjadi dengan "wanita vokal" itu setelah dia menikah dan memiliki anak?
fokusnya berubah.
wajar ngga sih? sangat wajar tentu saja


Pernah kenal sesosok wanita keren yang begitu "gaul" dalam kehidupan sehari-harinya ketika single?
aku kenal juga.
Lalu apa yang terjadi dengan "wanita gaul" itu setelah dia menikah dan lebih mendalami agama (islam)?
fokusnya pun berubah.
wajar ngga? masih sangat wajar kalo menurut aku.

Maksud aku di postingan ini adalah ada tiga poin utama yang bisa membuat seorang wanita berubah:
1. Agama
2. Keluarga (Suami/Anak dll)


Kamu wanita juga loh che.
berubah juga ngga?
tentu sajaaaaa~
Aku sadar banget nanti setelah menikah aku punya tanggungjawab yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan masa-masa single
karena itulah ketika masih single aku berusaha mencoba semuanya..
ikutan macem-macem lomba, jalan-jalan ke berbagai daerah, main-main ke luar negeri, belajar dari anak-anak di daerah pedalaman, apapun deh.
Karena saat masih single itu gampang. ga ribet. dan alhamdulillahnya aku punya orang tua yang santai banget. ga ngekang anak cewe satu-satunya ini. hehehe.
Selama kegiatan yang aku pengen ikutin itu baik, mereka pasti ngizinin.


Setelah menikah dan apalagi punya anak tentu saja ga se-fleksibel ketika single kan yaa..
Banyak hal yang perlu dipertimbangkan, yah emak-emak pasti tau rasanya lah yaa..
fokus kita ganti.
Misalnya umur kita di dunia ini adalah 60 tahun.
menurut aku nih ya,
20 tahun pertama adalah masa-masa untuk diri kita sendiri
20 tahun kedua adalah masa-masa untuk membangun keluarga
20 tahun terakhir adalah masa-masa untuk menikmati hidup dan persiapan akhirat


wait a minute,
kok persiapan akhirat nya di 20 tahun terakhir? gimana kalo umurnya ga nyampe?
itu gambaran umum aja kok.. dari awal borojol kan tetep aja tugas kita di dunia adalah beribadah kan yaa.. jangan marahin aku dulu.. baca dulu aja.. hehehe. kaya ada yang bakal baca aja


Akan ada fase dimana fokus hidup kita adalah diri kita sendiri
mengembangkan kemampuan dan bakat kita sendiri untuk "hidup" dan struggle di dunia ini,
berusaha menambah warna di dalam bintang kita sendiri agar lebih bercahaya dan indah,
memenuhi setiap sel otak kita dengan pengetahuan-pengetahuan dan life skill yang sekiranya dapat berguna di masa yang akan datang,
fase ego nih, semua fokus ada di kita, semua hal untuk kita, semua kegiatan dilakukan untuk kita.
you got the point right?


Fase ketiga ini relatif sih,
biasanya di usia 40 tahun, seseorang sudah hidup mapan dan anak-anaknya juga sudah cukup besar. Aku belum bisa ngomong banyak tentang fase ketiga,
karena aku belum sampe sana.. hehehe.



Diantara kedua fase itu akan ada fase kedua dimana fokus hidup kita adalah orang lain
bukan lagi diri sendiri, dalam fase ini kita mulai berpikir bagaimana caranya membahagiakan orangtua, keluarga, pokoknya orang lain. Nah di fase ini terkadang ada pergolakan #ceileh
di fase ini kita mulai membagi cahaya yang kita miliki untuk orang lain
menurut aku sih ketika ada "hal-hal yang belum tuntas" pada fase pertama, biasanya akan dilakukan di fase kedua walau terkesan "aneh".
makanya sebaiknya di zaman sekarang, jangan nyuruh-nyuruh anak kita untuk nikah terlalu muda kalo dia belum siap. Untuk aku pribadi sih rencananya gitu. Rencananyaaaa~


Untuk wanita yang ketika single biasa gadag-gidig kesana kemari dan ketika sudah menikah jadi harus diem di rumah juga akan mengalami pergolakan batin yang sangat..
(bisa baca tentang hal ini di postingan aku yang i am a cool mom) 
tapi semuanya hanyalah masalah waktu.. seorang wanita cepat atau lambat akan dengan sadar, ikhlas atau bahkan bersemangat untuk membagi cahaya nya kepada orang lain, terutama keluarga.
seorang Ibu akan berusaha mendidik anaknya agar memiliki "kualitas" yang jauh lebih baik dari dirinya sendiri


Kartini juga gitu.. dia merubah pandangannya ketika sudah memahami makna dari Al-Quran.. Hebat yaa.. aku juga pengen deh..
Ketika Zakir Naik mau datang ke Indonesia aku tiba-tiba aja nontonin semua video ceramah beliau di youtube.. dan ngefek berat bagi keimanan aku..
Akhir-akhir ini juga lagi agak "merubah" mindset pengasuhan anak..
efek dari parenting nabawiyah.. efek dari bergabung ke suatu grup dan diajari untuk selalu menanamkan nilai-nilai agama di setiap tindakan dan gaya pengasuhan kita.
religion did change me too
termasuk pemikiran aku tentang dunia pendidikan.. (nanti dibahas di postingan lain)
wanita hebat yaa..


Makanya seorang wanita bener-bener harus dikelilingi oleh lingkungan yang baik.
tanya kenapa?
karena wanita itu relatif "mudah terpengaruh"
coba buka kisah Adam dan Hawa deh, siapa yang terbujuk rayuan iblis?
yes. the eve
(mungkin mau baca postingan aku tentang hal ini disini > kertas atau pensil warna? )


Raden Ajeng Kartini terlahir dari keluarga ningrat yang sadar akan pendidikan dan juga memiliki akses ke pendidikan pada masa itu.
Sehingga Kartini kecil dapat belajar bahasa belanda, mengerti bahasa belanda, dan memiliki teman-teman wanita orang belanda yang membantunya mengembangkan pemikiran-pemikiran dan gagasan hebat. Tentu saja dasarnya memang sudah memiliki pemikiran kritis.


note to myself aja sih,
jadi seperti Kartini yuk,
beriman, memiliki wawasan dan pertemanan global, tapi tetap tidak lupa akan tugas dan kodratnya sebagai wanita.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai jasa-jasa para pahlawannya.

Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu - (R.A Kartini).

Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam. - R. A. Kartini

Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya. - R. A. Kartini.

Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata "Aku tiada dapat!" melenyapkan rasa berani. Kalimat "Aku mau!" membuat kita mudah mendaki puncak gunung. - R. A. Kartini.

Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri. - R. A. Kartini
(sumber: dari sini)




with love,
@octyvz


Related Articles

2 komentar:

  1. duuh ini kurang panjang diskusinya hahahaha. aku kadang hanya merasa sedih saat tidak bisa membela Kartini saat ada yg ngeshare bahwa beliau dekat pada Belanda. huhuhu. padahal jelas2 bangetkan ya diakhir hidup beliau malah dekat dengan Islam. Kalau dipikir-pikir kita mungkin tidak se'berani' Kartini saat mengambil keputusan untuk akhirnya kembali pada Islam padahal beliau punya kesempatan besar untuk melanjutkan sekolah ke Eropa, keluarganya juga pasti mendukung seandainya beliau tetap kekeuh dg pemikirannya awalnya. huhuhu. apalah aku ini :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih udah mampir mak irul sayang <3

      iyes.. belum tentu kita bisa seperti Kartini yaa.. Tapi memang perubahan ke arah yang lebih baik itu penting yaa.. yuk ah hehe

      Hapus