Sabtu, 02 Juni 2018

Semua orang itu pada dasarnya baik, kecuali...



Terkadang,
dua kelompok yang sedang berseberangan itu hanya perlu bertemu.
Berbicara, mendengarkan, berkompromi.
Selesai.
Toh semua orang itu pada dasarnya baik.
Kamu setuju ngga?



Beberapa kali aku sempat "tidak nyaman" dengan bahasa, sikap, atau ketikan orang lain di dunia nyata ataupun dunia maya,
dan sebagian besar respon aku pada mereka adalah: abaikan.
Beberapa orang yang pernah berinteraksi langsung dengan aku pernah bilang bahwa aku ini cuek, lempeng, ga pernah baper akan segala sesuatu.
Sebagian benar,
sebagian engga kok.
Aku juga pernah baper dan ikut kebawa pusing akan masalah "remeh",
tapi yaa seringnya aku ga peduli.
Maksudnya, yaudah sih maklumin aja.
Sifat orang kan beda-beda ya. :)


Anak aku pernah dibilang kasian ga keurus karena mimihnya pergi-pergi dinas luar terus.
Dalam kondisi normal, aku akan baper.
Tapi karena aku tahu latar belakang si seseorang yang bilang tadi seperti apa,
aku memaklumi perkataannya.
Pernah juga aku gasuka ketika baca ketikan salah seorang kawan,
temen deket loh.
Temen yang biasanya haha-hihi ketawa-ketiwi tiba-tiba aku ngerasa "jleb" ketika baca ketikannya.
Sakit hati?
Yah, dikit lah.
Saat itu aku mikir,
kayanya hati aku yang lagi sensitif karena satu dan lain hal.
Padahal pas ketikan dia aku baca di lain waktu yaa biasa aja.
Fix masalahnya memang di aku saat itu.
Terlalu lelah? Banyak masalah? Bisa jadi.
Efeknya adalah ketikan orang lain yang gatau apa-apa yang jadi kambing hitamnya.


Aku mengabaikan perkataan yang bikin baper itu dan menjadikannya angin lalu.
Aku menunggu dan mencari alasan kenapa aku sesakit itu ketika tau, baca, atau mengalami sesuatu hal yang tidak aku sukai.
Aku menolak sakit hati karena sesuatu hal yang ga penting-penting amat.
Bukankah kita sendiri yang menentukan bahagia?



Pada dasarnya semua orang itu baik.
Coba sebutin siapa manusia yang jahat?
Ga ada kan?
Aku percaya setiap orang memiliki sisi baik,
hanya saja mungkin cara, sikap, dan pembawaannya yang berbeda.
Wallahualam.
Bukan kitalah yang berhak menilai baik buruk seseorang kan?
Prinsip pertama yang selalu berusaha aku ingat:
Semua orang itu pada dasarnya baik.


Kalo memang ada pada suatu kondisi yang membuat kita merasakan bahwa orang itu "kok jahat ya",
pasti cuma ada dua penyebab:
Pertama: Kita yang kelewatan sensitif dan mudah terluka

atau

Kedua: Mereka yang sedang "bermasalah" dan butuh pemakluman


Sekali lagi,
sifat orang itu berbeda-beda kan.
Ada yang halus banget perasaannya, ketika dibentak dikit dia akan sangat merasa tersakiti.
Ada yang gabisa banget menerima kritik di depan khalayak umum, ketika hal itu terjadi dia akan sangat malu dan malah berbalik membenci.
Ada yang gampang banget memasukkan semua kata-kata orang ke dalam hati, menganggap bahwa semua yang diutarakan padanya adalah begitu adanya.
Banyak yang kaya gitu? Banyaaaaakkk.
Trus gimana?
Ya ga gimana-gimana,
menghadapi spesies manusia seperti ini memang harus berhati-hati.
Susah memang mengenali dan memahaminya, tapi semakin lama kita berinteraksi pasti akan mengerti.


Ketika berinteraksi sama orang lain pun sama.
Kita sama sekali gatau gimana kondisi dia sesungguhnya kan.
Orang yang biasa kita ajak bercanda, bisa jadi pada suatu kesempatan tidak se-frekuensi lagi.
Ketika hal itu terjadi,
besar kemungkinan dia sedang ada masalah, maklumin aja.
Sederhana ga sih?






Biar ga terlalu mengawang-awang,
aku mau ambil contoh diri aku sendiri deh.
Suami aku tipe yang sensitif banget, dan aku tipe yang lempeng parah.
what a combination, eh?

awal-awal nikah (setelah melewati fase romantis),
kita sering guntreng.
Aku ceplas ceplos, dia sering baper.
Akhirnya aku bilang ke bapak suami,
kalo misalnya istrinya ini melakukan suatu hal yang tidak disukai oleh bapak suami,
tolong bilang langsung, gausah muter-muter bilangnya, jeplakin aja langsung kesalahan aku apa.
Karena ya,
barangkali yang baca tulisan aku punya pasangan hidup yang mirip kaya aku:
Spesies kaya aku tuh kadang gatau kalo lagi melakukan suatu kesalahan.
Jadi sebaiknya omongin aja langsung dengan tegas gausah basa-basi.
Takut sakit hati?
Tenang aja, spesies di golongan aku, anti sakit hati.
Kita punya filter sendiri, bisa memilah masalah apa yang layak untuk menyakiti hati.
#ceileh


Aku juga bilang sama bapak suami,
istrinya ini tuh ya,
kadang cuma butuh "pelampiasan" omelan.
Jadi kalo misalnya aku lagi ngomel bla-bla-bla panjang,
plis jangan dimasukin hati.
Biarin aja, ntar juga repeh sendiri.
Seriously.


Setelah diskusi selama berkali-kali,
trial and error entah berapa purnama berganti,
Akhirnya kita menemukan formula yang cocok di hati. Hahahaha.
Bapak suami akan membeberkan apa yang dia mau, dia suka, dia gasuka kepada istrinya dengan jelas agar si istri yang ga peka ini tau apa titah sang suami tercinta.
Orang yang lempeng kaya aku itu terkadang memang ga peka.
Jadi ya solusinya harus dikasih tau. Beres kan?
Setelah tau, aku akan berusaha mewujudkan keinginan dan titah sang suami.
Kuncinya memang di komunikasi yaa ternyata.


Begitupun kebalikannya,
suami aku belajar menerima, berkompromi, dan mencari solusi dari kebutuhan aku yang perlu ngomong panjang (read: ngomel).
Atuh gimana ya,
kalo bukan ke suami mau ke siapa lagi coba?
hihihi.
Berhasil?
Alhamdulillah sih sejauh mah. hehe.
Bapak suami berusaha untuk ga gampang baper,
dan si istri berusaha untuk lebih peka lagi.




Gimana caranya aku memaklumi?
Yaa ada saat-saat dimana hidup itu ngga mulus kan,
ketika yang biasanya sehati tapi sekarang sedang berbeda,
ya pasti ada sesuatu.
Kalo dia cerita, kita tau masalahnya apa, lebih enak kan yaa.
Tapi jika seandainya dia ga cerita,
kita bisa apa selain memaklumi?
Toh ga selamanya dia ada di sisi yang berbeda kan.
Selalu ada alasan di balik setiap tindakan.
Percaya aja,
semua orang itu pada dasarnya baik,
hanya mungkin saat ini sedang butuh waktu untuk menyelesaikan konflik.
Maklumi saja 💓


Ada orang yang bilang,
ketika makan, sendok pasti akan bersinggungan dengan garpu.
Gapapa, wajar.
Selama sendok dan garpu itu memiliki satu tujuan yang sama,
maka maklumilah.

Sekali lagi,
semua orang itu pada dasarnya baik,
kecuali memang kamu yang belum memahami. 💓

forgive all who have offended you,
not for them,
but for yourself  

 
Selamat beribadah shaum Ramadhan bagi yang menjalankan,
and happy weekend 💓












with love,

@octyvz



eh iya,
Happy 4th Anniversary yaa pak suami 💗💗💗
tulisan aku saat anniversary tahun lalu bisa dibaca di sini:
Read: Jatuh Cinta lagi
(siapa tau ada yang mau mampir. hihihi)

Related Articles

3 komentar:

  1. Panjaaaang sekali mimih. Ini mah curhat sekali yaaa. Banyak masalah mih? Wkwkwk

    BalasHapus
  2. paling suka sama tulisan yang egk ngejudge sama sekali kayak gini <3

    BalasHapus