Jumat, 03 November 2017

Dunia ini masih butuh kamu




Pagi yang sibuk seperti biasa,
dan tidak ada yang aneh hari itu,
namun di ujung pagi,
tepat saat diri sudah sibuk dengan rutinitas,
ada sms yang membuat kaget,
suami mengalami kecelakaan.
Innalillahi!



Aku nanya ke suami:
"tabrakan nya dimana?"

he said, "itu di depan kantor mimih persis"
"serius? ada yang nolongin kan?"
"ngga ada"


wait,
WHAT?
Ga ada yang nolongin?
Seriusan?
Depan kantor aku loh.
Ada banyak satpam berkerumun disana masa ga ada yang nolongin coba.

Terlepas dari suami aku yang sok iyeh langsung bangun setelah mental dari motor,
terlepas dari insiden kecelakaan tersebut melibatkan para laki-laki,
terlepas dari aku juga belom pernah nolongin orang yang kecelakaan,
masa ngga ada yang nolongin sih?
DEPAN KANTOR AKU LOH.
SATPAM NYA PADA NGAPAIN?
ORANG-ORANG CUEK BEBEK?
πŸ‘€

Seinget aku sih,
selama aku kecelakaan di jalan selalu ada orang yang nolong.
Entah itu masyarakat sekitar,
atau bahkan juga pengendara lain yang sengaja berhenti untuk nolong.
Tapi kenapa kasus suami aku engga ya?


Kalo kata mertua aku sih,
osok gitu da teteh, orang kota mah osok teu paduli kanu batur teh.
aku melongo doang,
gitu ya?



Cerita beralih ke tahun 2012.
Saat itu aku lagi ada tugas di pedalaman kalimantan.
Seriusan pedalaman.
Tapi daerahnya bukan yang terbelakang gitu sih,
biasa aja.. udah pada pake baju kok. HAHA.
Hanya saja memang akses menuju kesana butuh perjuangan.


fast forward,
aku bisa pulang dulu ke bandung selama beberapa hari.
Dan ketika harus balik lagi ke kalimantan,
aku bawa oleh-oleh super banyak banget.
Bawa kaos untuk SEMUA guru,
dan bawa miniatur angklung gitu untuk SEMUA murid.
Hampir sekarung, berat banget, dan aku bawanya juga diseret bukan diangkat haha.


Ketika di bandara mau check-in,
tiba-tiba ada bapak--paruh baya yang antri di belakang aku, nyenggol dan bilang:
"neng itu bawaan nya banyak banget. Oleh-oleh?"
aku jawab singkat sambil senyum aja, "iya pak"
"nanti bakal kena ekstra bagasi loh kalo segitu"
disitu aku baru kepikiran oh iya yaaaaa~ πŸ˜“
"udah aja gabung sama saya tiketnya, kebetulan saya gabawa bagasi" ujar si bapak.
TRILING πŸ™†
terbebaslah aku dari permasalahan ekstra bagasi.


Baik yaa~
Padahal ga kenal loh.
Aku yakin kalian juga pernah mengalami sendiri kebaikan-kebaikan orang yang tidak dikenal di situasi-situasi genting.
Entah itu tiba-tiba kendaraan mogok di tengah jalan,
atau ketinggalan dompet/hp dan dikembalikan sama si penemu.
(ah ini sih masih cerita aku banget) πŸ˜†
I do believe that there are million of good people out there.
hanya saja akhir-akhir ini jadi ada beberapa oknum yang memanfaatkan sifat baik orang lain.


Seperti contohnya cerita ini,
aku dapet dari share temen dan mohon maaf ga ketauan siapa ini yang pertama menulisnya.

Hari Selasa kemarin untuk suatu urusan, saya musti terbang ke Balikpapan. Seperti biasa saya selalu berangkat beberapa jam sebelumnya ke Bandara, untuk menghindari kemacetan. Saat saya hendak check in, orang yang sedang proses check in didepan saya tampak agak kebingungan dengan barang bawaannya. Cukup banyak sehingga melampaui batas yang diperkenankan. Ia kemudian menoleh ke arah saya dan berkata meminta bantuan.

"Pak, saya lihat bawaan bapak sedikit," katanya sembari menatap saya. "Bisakah saya menitipkan kopor saya kepada Bapak?"

Saya langsung menggeleng.

"Maaf pak, saya tidak bersedia," jawab saya tegas.

"Kenapa pak? Bapak tidak mempercayai saya?"

"Bagaimana saya percaya Bapak, kenal saja tidak. Pun jika ternyata bagasi bapak itu berisi barang berbahaya, nantinya di manifest terdaftar atas nama saya. Sayalah yang akan berurusan dengan polisi, bukan Anda."

"Terus saya harus bagaimana?"

"Itu masalah Anda, bukan urusan saya. Lagipula masih ada solusinya kok, bayar saja kelebihannya."

Saya lihat counter check in sebelah kosong, petugasnya mengangguk kepada saya. Segera saya bergeser kesana, mengurus check in dan beranjak masuk ke lounge.

❤❤❤❤❤
Sebulan lalu saya mengantar isteri ke sebuah gerai ATM kantor cabang bank langganan kami di Cinere untuk mengambil uang. Setiba di tempat tujuan, ia turun terlebih dahulu sementara saya memarkir mobil.

Ketika saya menyusulnya masuk kedalam gerai ATM, saya lihat isteri saya tengah bercakap dengan dua orang lelaki yang tidak kami kenal. Saya menghampiri mereka diam-diam sembari mendengarkan percakapannya.

"Jadi begini bu," ujar salah seorang diantaranya. "Saya mau transfer uang ke saudara, namun ATM saya ketinggalan. Saya cuma minta tolong ibu untuk mentransfer dua juta ke nomor rekening ini dan uangnya saya ganti sekarang juga, ini sudah saya pegang."

"Wah maaf saya tidak bisa membantu Anda," sahut isteri saya.

"Kenapa bu?," tanya salah seorang diantara mereka dengan nada suara meninggi. "Ibu tidak percaya kepada kami?"

"Ya, saya tidak percaya kepada kalian," sahut saya tegas sembari mendekati isteri. Kedua orang itu menoleh.

"Bapak siapa? Tak usah campur tangan urusan orang pak."

"Dia isteri saya. Kalian mau apa? Saya tidak percaya kepada kalian dan kalau tetap memaksa, akan saya suruh orang ramai diluar sana menangkapmu."

Mereka berdua tampak keder, kemudian bergegas keluar dan menyengklak motornya tanpa menoleh lagi.

 ❤❤❤❤❤
Itulah social engineering. Sebuah teknik untuk memanipulasi dan mengarahkan perilaku seseorang atau sekelompok orang dengan menggunakan kekuatan hipnotik bahasa, rasa rikuh pekewuh serta preferensi pribadi seseorang terhadap suatu isu.

Sejalan dengan kian berkembangnya teknologi, teknik human engineering juga merembes kencang dalam dunia sosial media melalui berita-berita hoax. Oleh karena itu jangan heran jika dari tukang sampah hingga orang berpendidikan sangat tinggi, bisa terpengaruh karenanya.

Kata kata seperti ini:

"Bapak gak percaya dgn saya?"

Biasa nya kita jadi sungkan krn takut menghina mereka lalu kita jawab:

"Bukan begitu...tapi......."

Nah disaat itu, kita menempatkan diri dibawah mereka.

Seharusnya langsung jawab:

"IYA...SAYA GAK PERCAYA KALIAN.."
persis dalam cerita diatas. Mulai itu penjahat tahu kita bukan calon korban yg lemah.

❤❤❤❤❤



Menurut kalian gimana?


Ceritanya agak mirip sama cerita aku di bandara tahun 2012 lalu ya,

kasus pertama,

ada orang tak dikenal yang menawarkan kuota bagasi miliknya untuk kita,

sementara kasus kedua,

ada orang tak dikenal yang meminta kuota bagasi milik kita untuk dirinya.
tipis?




satu orang menawarkan bantuan,

dan di belahan bumi lain ada orang lain yang meminta bantuan



Jika konteksnya hanya sampai sana. Relatif mudah kita bertindak kan?

Dulu aku pernah dibantu orang lain karena kelebihan bagasi,

dan ketika suatu saat aku dimintai bantuan untuk memberikan bagasi aku ke dia, jadi kaya semacam take and give di kesempatan berbeda.

Ye ga?





Tapi kan engga se-simpel itu.
Beda kasus!  
yes I know~

Tapi kebayang ngga?
kalo misalnya si bapak yang minta tolong transfer tadi bener-bener lagi butuh? Untuk transfer ke rekening rumah sakit karena istrinya harus segera di operasi mungkin? Kalo dia harus balik lagi ke rumah ambil ATM ga akan keburu?  

Atau si bapak yang kelebihan bagasi tadi isi kopernya hanyalah oleh-oleh untuk sanak keluarga yang dia beli sampai menghabiskan uangnya? Trus untuk bayar ekstra bagasi dia udah ga ada uang? Masa oleh-olehnya harus dibuang di bandara?

Kebayang?




Kids jaman now dan modus jaman now itu udah makin kompleks sih memang.

Mungkin karena oknum-oknum mama minta pulsa and the gank malah membuat diri kita jadi semakin curiga sama orang lain.

Padahal kalo emang mau membantu bisa ditelisik lagi lebih dalam kan?

“abis takut dihipnotis~”
Ah elah susah kalo udah gini alesan nya sih.




Pernah denger salah satu pertanyaan seperti ini ke ustadz Khalid Basalamah:

“ustadz, jika kita menyumbang sekian rupiah untuk pembangunan masjid ke seseorang. Namun ternyata orang itu penipu, uang sumbangan malah digunakan untuk kepentingan pribadi. Itu gimana ya ustadz?”




Jawabannya membuat hati adem banget,

Intinya, niat dan harta yang sudah disedekahkan tetap akan bernilai ibadah walaupun pada kenyataan nya tidak digunakan sebagaimana akad awal.

Seperti kasus ini, anda tetap akan mendapatkan pahala wakaf untuk membangun masjid walaupun sebenarnya uang yang anda berikan tidak digunakan sebagaimana mestinya.



πŸ’—



Menurut aku,

Sekarang itu udah kaya perlombaan akbar antara si baik dan si jahat. 
(dari dulu juga udah gini sih~)
Semacam makin banyak "orang jahat" yang beraksi menebarkan propaganda,
dan si "orang baik" mulai takut dikira "orang jahat" sehingga mereka rehat dari kegiatan kebaikan.
Kenapa?
Ya itu tadi,
si "orang jahat" meniru cara-cara si "orang baik"
(aku SADAR kalimat aku masih abstrak banget, tapi semoga ada yang ngerti).


Jadi ya,
kalian sebagai orang baik,
jangan takut dan berhenti untuk menebar kebaikan.
Apapun kata orang.
Dunia ini masih butuh bapak paruh baya di bandara yang peka ngeliat kesulitan orang lain.
Dunia ini masih butuh teteh baik hati yang ngembaliin kartu ATM yang ketinggalan di gerai.
Dunia ini masih butuh lelaki yang rela berhenti dan membeli buah mangga dari gerobak yang didorong kakek tua di pinggir jalan raya.
Dunia ini masih butuh senyuman manis anak SD sambil mungutin belanjaan ibu hamil yang ga sengaja jatoh dan bertebaran.
Dunia ini masih butuh penjaga toko yang rela mengejar pembeli yang telah pergi demi uang kembalian yang alpa dia berikan.
Dunia ini masih butuh tetangga hebat yang rajin lewat depan rumah setiap adzan berkumandang demi mengingatkan si empunya untuk melangkah ke masjid bersama.
Dunia ini masih butuh kalian wahai orang baik.


Jangan kalah sama "mereka",
harus tetap hati-hati,
namun jangan mengekang diri
dan berhenti berbagi.
karena dunia ini masih membutuhkan sentuhan sang peri,
Dunia ini masih butuh kamu.








Cimahi, 031117
23:43 WIB





with love,



@octyvz






p.s. jangan lupa yang paling utama: selalu meminta perlindungan Illahi Rabbi πŸ’—


Related Articles

7 komentar:

  1. Wooo.nice post oce..
    btw aku masih ada ko, aku orang baik loh (mana ada orang baik ngaku baik?haha)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha. aku juga orang baik.
      #eh kok ngaku juga :p

      Hapus
  2. suami mu ga ada yg nolong krn laki2 ..gender itu ngaruhin reaksi sosial org menurut aku.. 11 12 sama ras.

    btw.. aq percaya kl kita pernah berbuat baik atau bahkan sering ga peduli apapun kondisi kita.. suatu saat kita nerima balasan nya dilain waktu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga mikirnya gitu sih uni.. gender pengaruh.. i do believe that too. semoga kita termasuk orang-orang yang baik yaa uni.. hehe

      Hapus
  3. baik baiklah sama orang baik, karena sebaik-baiknya orang baik adalah orang yang berbuat baik.

    BalasHapus
  4. Bagus tulisannya, panjang hahahaπŸ˜‚πŸ˜˜

    BalasHapus
  5. yup! walaupun orang-orang banyak yang egk peduli dengan apa yang kamu lakuin, tapi dunia ini masih butuh kamu. semangat!

    BalasHapus